Teruntuk :
Muhammad Arizal, S.Pd
Tersungging senyum kecil saat aku menulis namamu dengan titel sarjana pendidikan, karena aku sangat tahu bukanlah hal yang mudah bagimu untuk mendapatkan titel itu. Perjuanganmu patut diacungi jempol, dan itu bukan dalam waktu yang singkat :)
Baiklah, sekedar intermezo. Sekarang aku akan katakan inti dari apa yang tersirat dalam benakku saat ini.
Rizal, kau tahu.
Mungkin kemarin malam adalah air mata pertamaku yang jatuh setelah sekian lama aku tidak pernah menangis karenamu.
Pesan yang kau kirimkan memberi pengaruh yang maha dahsyat kepada diriku.
Tak sanggup aku membayangkan keadaanmu yang dirundung duka nun jauh disana.
Kau bilang, malam ini, malam dimana usiamu bertambah satu tahun, kau ingin mengingat semua kenangan kita hingga kau dapat tertidur dengan tenang, dan berharap esok hari kau bangun dengan semangat dan mimpi baru.
Maafkan aku..
Kau benar, aku bahkan nyaris lupa dengan hari ulang tahunmu. Kalau saja aku tidak mencatat hari ulang tahunmu di kalender ponselku, mungkin aku akan lupa kalau hari ini adalah 11 Januari.
Ya, 11 Januari. Hari dimana dahulu selalu kita nanti-nantikan karena pada tanggal ini kita merayakan dua momen sekaligus. Tapi tidak dengan tahun ini, semuanya telah berubah bak ditelan oleh waktu.
Malam ini aku merasakan kesedihan yang mendalam, begitu juga kau.
Mengapa kita mesti bersedih padahal dulu kita pernah tertawa lepas?
Mengapa kita mesti bertengkar padahal dulu kita sangat kompak?
Rizal, apa kau pikir aku telah melupakan kenangan kita begitu saja?
Tidak, kau salah.
Kau ingat, dulu sewaktu kita menjalin persahabatan, kau pernah membelikan sepatu di hari ulang tahunku karena aku tidak punya cukup uang untuk membelinya dan kau tahu bahwa aku menginginkannya.
Kau tahu, perasaanku sangat senang sekali waktu itu. Tapi aku hanya memikirkan diriku sendiri, aku menginginkan sepatu itu karena aku ingin tampil cantik di hadapan orang lain. Sungguh, aku benar-benar tidak berfikir atas dirimu.
Sebaliknya apa yang pernah aku berikan padamu? Saat ulang tahunmu aku hanya memberikanmu sebuah kompas, agar kau tidak tersesat dan salah arah. Dan kini pun kau telah mengembalikan kompas itu kepadaku.
Maafkan aku..
Kau ingat, saat kita pergi ke toko musik bersama dan kau menemaniku membeli sebuah gitar. Kau sangat tahu bahwa aku ingin memiliki gitar sendiri, kau pun rela patungan agar aku bisa mendapatkan gitar yang lumayan bagus. Padahal saat itu kau hanyalah sahabatku. Mengapa kau begitu baik kepadaku?
Rizal, ingatkah kau
Saat motorku rusak ditengah jalan sehabis pulang magang dan harus dibawa ke bengkel padahal saat itu aku tidak membawa cukup uang. Aku meneleponmu lalu kau dengan segera menyusulku dan membawa uang, padahal kau sendiri datang dengan motormu yang butut dan mengenaskan. Aku ingat sekali saat itu.
Kau ingat, saat kita menonton konser grup band yang sangat aku sukai.
Kau sangat mencemaskanku, namun aku malah memarahimu karena kau tidak memberiku izin untuk berada dibarisan paling depan. Aku tahu kau sangat mengkhawatirkanku, namun aku seolah tak peduli atas tindakanmu. Aku benar-benar hanya memikirkan diriku sendiri.
Begitupun saat pulang, kakiku penuh dengan becek dan sebelum naik motor kau dengan tulus mencucikan kakiku hingga benar-benar bersih. Kau sendiri tidak memperdulikan sepatumu yang hampir rusak karena terinjak-injak. Kau benar-benar hanya memikirkan diriku.
Kau tahu, saat kau membelikanku pom-pom sebagai hadiah ulang tahunku. Itu merupakan hadiah terindah yang pernah kudapatkan seumur hidupku. Ingatkah kau saat kita membawa pulang pom-pom dan cuacanya sedang gerimis. Lalu kita berteduh dibawah pohon dan membawa kardus berisi kucing. Orang-orang heran melihat kita tapi kita hanya tertawa.
Rizal ingatkah kau
menjelang hari wisudaku kau menemaniku membeli semua perlengkapan wisuda. Kau selalu ada disaat aku butuhkan.
Tapi aku?
Aku bahkan hampir lupa hari dan tanggal wisudamu.
Ingatkah kau,
Disaat semua orang mulai meninggalkanku, kau dengan setia tetap berada disisiku.
Bahkan saat aku berada di titik terendah dalam hidup (saat aku belum mendapatkan pekerjaan), kau berusaha selalu ada untuk menghiburku, tapi aku tidak pernah bersyukur akan hal itu.
Aku selau bilang, aku ingin mempunyai pasangan yang romantis. Lalu kau mulai berusaha romantis walau itu tampak konyol dan bodoh. Yang ada, aku malah menertawakanmu.
Ah, masih banyak sekali kebaikan-kebaikanmu terhadapku yang terlambat aku sadari.
Bisa dikatakan terlalu banyak sehingga memori dalam otakku tidak mampu menampung semua kenangan itu.
Semua orang berkata kau baik. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa kau memanglah benar-benar orang yang baik.
Seperti kata pepatah :
Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang lautan terlihat jelas.
Aku sering mengabaikanmu, mengacuhkanmu, memandangmu sebelah mata. Padahal kaulah orang yang paling mencintaiku dengan begitu dalamnya. Namun pandanganku malah tertuju untuk orang lain.
Maafkan aku..
You gave me roses, and I left them there to die
(Kau berikan aku mawar, dan aku tinggalkan disana hingga mati)
You gave me all your love and all I gave you was Goodbye...
(Kau memberikanku seluruh cintamu dan yang kuberikan hanyalah perpisahan..)
Luka yang kutancapkan ke hatimu begitu dalam, mungkin terlalu dalam.
Sehingga perih itu masih tetap terasa walau kau telah berusaha mengobatinya.
Rizal, tahukah kau
Saat menulis tulisan ini aku menitikkan air mataku. Aku mengingat semua perkataanmu.
Sedalam itukah perasaanmu padaku hingga kau rela menangis demi aku.
Setahuku kau adalah orang yang kuat dan paling tegar
tapi kali ini kau tak mampu membendung air matamu, karena terlalu berat perasaan sakit yang kau tahankan.
Aku tidak pernah berfikir kita bisa sejauh ini, kadang aku masih merasa tidak masuk akal kalau hubungan persahabatan kita dapat berubah seperti sekarang ini.
Lucu memang, bila di pikirkan.
Dulu aku pernah bilang kan, "Berpacaran dengan sahabat? Ada dua kemungkinan di kemudian hari : Berkomitmen untuk selamanya atau kehilangan sahabat selamanya"
Sebenarnya aku pernah menulis tentangmu sebelumnya disini
http://febriyossi.blogspot.co.id/2014/08/ini-cerita-kami-mana-cerita-kalian.html,
Kau tidak pernah tahu, kan?
Buka saja link itu jika kau mau baca.
Rizal, aku tak ingin lagi melihat kau bersedih.
Berjanjilah bahwa kesedihanmu ini adalah untuk yang terakhir kalinya.
Aku merindukan kau yang dulu, sangat merindukan dirimu yang dulu.
Rizal yang penuh dengan mimpi-mimpi membara, yang penuh dengan asa berapi-api dan dengan rencana-rencana yang sedikit tidak masuk akal. Tapi itulah dirimu, cs ku yang kenal dengan sangat baik.
Masih ingatkah penggalan kata-kata dalam film Sang Pempmpi yang kita tonton bersama?
"Tahu apa kau tentang cinta, Boy. Hidup ini terlalu keras untuk orang-orang macam kita"
Percayalah Zal, hidup ini tidak semata-mata hanya tentang cinta dan cinta. Kita masih punya mimpi-mimpi besar dan rencana masa depan yang harus kita persiapkan sedini mungkin.
Dengan ataupun tanpaku, hidupmu harus tetap berlanjut.
When your Birthday Passed, I didn't Call...
Terakhir, aku hanya ingin mengucapkan selamat atas ulang tahunmu yang ke-26.
Bukan usia yang muda lagi, bukan? ^_^
Harapanku untukmu, biar kuselipkan dalam doa.
Jangan khawatir, selalu aku doakan untukmu hal yang baik-baik :)
Meski tadi malam aku telah memberimu ucapan selamat, namun aku tetap merasa bersalah karena aku telat mengucapkannya. Kau menungguku dari jam 00 dan pada akhirnya kau baru memberimu ucapan selamat pada pukul 03.00 dinihari.
Lagi-lagi Maaf, karena tidak ada yang bisa aku persembahkan di harimu yang spesial ini.
Terakhir kau bilang, kau mulai bisa mencintai wanita lain.
Aku turut berbahagia akan hal itu.
Harapanku, semoga kau mendapatkan wanita yang baik, dan terbaik.
Mungkin segini saja yang bisa aku katakan kepadamu, karena mataku sangat tidak bisa diajak berkompromi lagi.
Sekian dan Wassalam.
Batam, 11 Januari 2016 Pukul 23:53
Ocy
Hey.
Malam ini aku terfikir untuk menggubah tulisanku ini.
Karena tadi malam aku sudah tidak sanggup untuk menulis, akan tetapi masih banyak yang sebenarnya ingin aku sampaikan
Masih banyak kenangan-kenangan kita yang ingin aku flashback disini.
Karena aku pernah mendengar pepatah bijak,
"
Yang terucap akan lenyap, yang tercatat akan teringat"
Oleh sebab itulah aku memutuskan untuk menulis semua peristiwa yang ingin aku ingat serta perasaan yang ingin aku curahkan, sebenarnya.
Kau ingat tidak,
Waktu aku bekerja diluar kota palembang, aku sudah mewanti-wantimu untuk tidak menemuiku tapi kau bersikeras untuk datang ke mess tempatku bekerja. Padahal kau tahu aku akan pulang minggu depan. Dan aku tahu, kau memang seorang yang keras kepala.
Hanya untuk menemui aku kau rela menghabiskan waktu perjalanan selama 6 jam. Padahal kita hanya bertemu tak lebih dari dari dua jam.
Kau membawakan kami banyak makanan.
Aku ingat betul, tak lama setelah kau dan temanmu pulang, turun hujan begitu lebat. Kau bilang bajumu basah dan kalian berteduh sampai hujan reda.
Suatu hari kau berencana menemuiku lagi tanpa memberitahu aku sebelumnya. Setelah setengah perjalanan kau menelponku dan bilang bahwa kalian akan segera tiba. Lalu aku marah dan menyuruh kalian pulang, lalu kau dan teman-temanmu berbalik arah dan pulang dengan rasa kecewa.
Maafkan aku..
Aku sangat senang memasakkan makanan untukmu. Walau kutahu rasanya kurang pas, karena aku memang tergolong wanita yang tidak pandai memasak. Tapi kau selalu menghabiskan makanan yang kumasakkan untukmu. Apapun yang kuberikan, selalu kau habiskan. Ada perasaan senang dan bangga, karena kau bisa menghargai apa yang aku beri.
Terima kasih..
Dan kau tahu,
hanya di hadapanmu lah aku benar-benar bisa menjadi diriku sendiri.
Perasaanmu tidak pernah berubah kepadaku walau aku tampil seburuk mungkin di hadapanmu.
Seburuk dan sejelek apapun aku, seaneh dan separah kebiasaan burukku, kau tetap menerimaku jua. menerimaku dengan apa adanya.
Ah, aku benar-benar sangat beruntung waktu itu.
Rizal,
Jangan sekali-kali berfikir bahwa aku tidak pernah mencintaimu.
Dulu aku juga sangat mencintaimu, sangat.
Tapi cintaku tidak pernah melebihi besarnya cintamu.
Dulu aku sangat peduli padamu.
Masalahmu adalah masalahku juga. Beban yang kau pikul adalah tanggunganku juga.
Meski terkadang aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu mengurangi masalahmu.
Semuanya bermula dari kebiasaanmu yang membiasakanku terbiasa dengan keadaan itu.
Kau menuruti semua kemauanku.
Kau selalu mengalah denganku.
Hey,
Aku menambahkan beberapa foto kita disini.
Sejujurnya aku masih menyimpan foto-foto kita di laptop ini.
Seabreg foto kita berdua masih tersimpan rapi. Biarkan lah mereka tersimpan sampai aku puas melihatnya, lalu aku benar-benar akan menghapusnya.