Selasa, 09 Februari 2016

GETIR

Selasa malam, 9 Februari 2016

Satu pekan lebih berlalu di bulan februari. Bulan yang menurutku akan mendatangkan banyak kebahagiaan, bulan yang didalamnya tersimpan secercah harapan.
Namun terkadang hidup bisa saja melenceng dari ekspektasi yang kita semogakan.

Hmm....
Satu hela nafas terasa begitu berat
Kucoba menarik nafas dalam-dalam, satu kali, dan satu kali lagi.

Semalam, adalah satu malam yang berhasil membuatku sangat terpukul. Otak dan hatiku tidak lagi dalam keadaan sinkron.
Kabar buruk datang menghampiri kami, pamanku terkena musibah, ia mengalami kecelakaan hebat sehingga mobilnya hancur. Aku tersentak, jantungku berdegup kencang dan aku berada dalam kegetiran.
"Semoga tidak terjadi apa-apa", pikirku.
Kami langsung menuju kantor polisi, dan menemui pamanku yang tertunduk lesu di sudut ruangan kecil itu. Suasana seketika berubah menjadi haru, mereka saling berpelukan. air mataku nyaris berurai namun dengan sekuat tenaga aku menahannya agar  ia tidak jatuh. Ya Allah, syukurlah tidak ada luka serius pada pamanku, hanya saja ia terlihat shock dan kini hanya terdiam.

Aku sangat merasa kasihan pada kakak-kakakku, banyak dana yang terkuras karena musibah ini. Tapi apalah dayaku, tak banyak yang bisa aku perbuat, namun aku terus memikirkan mereka. Aku benar-benar dalam situasi yang sulit..

Tak berselang tiga jam dari kabar buruk tersebut, lagi-lagi aku harus menerima kenyataan pahit. Pahit sekali, dan terasa kelu. Aku melihat seseorang yang dulu pernah peduli padaku, kini ia telah mengikrarkan dirinya bersama wanita lain, wanita yang dicintainya, wanita yang berarti dalam hidupnya, tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya.
Aku tersentak untuk kedua kalinya..
Jantungku berhenti berdetak sesaat, sesak.

Sepertinya ada sesuatu yang menikam dadaku, sakit sekali.

Sejujurnya aku telah memprediksi hal ini akan terjadi di kemudian hari, namun aku seolah menutup mata dan telingaku dan aku berusaha menjelaskan pada diriku sendiri bahwa mereka tak selalu benar.

Pada akhirnya, ah sudahlah

Aku terlampau percaya pada pria yang perkataannya selalu terdengar seperti omong kosong, dan sekarang terbukti bahwa dia memang seseorang yang omong kosong.
Satu yang sangat aku sesalkan, karena aku berkata sangat jujur padanya.
Ironisnya, kejujuranku telah tergadai dengan kemunafikan dan kebohongan besar.
Jika pada akhirnya akulah yang menjadi bagian yang dilemahkan, maka lebih baik aku diam.
Jika aku berbicara untuk menjelaskan sebuah pengaburan, maka lebih baik aku diam.
Namun, aku tak mampu melindungi batinku dari gejolak yang terlalu besar. Gejolak yang pada akhirnya merobohkanku diriku sendiri.

Aku bungkam, dalam muram.
Aku kelu, dalam pilu.

Aku berusaha untuk tegar, menerangkan pada diriku bahwa kisah yang satir ini akan bertukar menjadi cerita yang baik.
Sangat naif jika aku berkata bahwa aku baik-baik saja. kuakui ada perasaan gundah  dalam dada, mengusik pikiranku selama dua hari ke belakang.
Mereka pernah bilang lepaskan saja apa yang ingin kamu luapkan sampai hatimu lega dan setelahnya kamu tak perlu menoleh lagi ke belakang.
Maka, aku menangis sejadi-jadinya. Pandanganku berubah menjadi buram, samar, ragaku serasa hampa, tersapu deburan angin, diatas sepeda motor badanku terasa kaku.

Aku tiada siapapun kecuali Allah di hatiku..

Allah begitu baik kepada hambaNya, dibalik semua peristiwa terselip sebuah hikmah yang bisa dipetik, dikaji dan diambil pelajaran. Aku yakin, Allah punya rencana baik untukku.

--------------------------------------------------------

IBU, AKU INGIN MENANGIS..
tolong dengarkan tangisanku satu kali saja, bu.
Ibu, tolong aku...
Tolong tenangkan diriku bu..
Aku berada dalam situasi yang sangat sulit..
Genggam tanganku sebentar saja hingga aku merasakan sedikit ketenangan, lalu aku akan pergi lagi menghadapi dunia yang keras ini, bu.

--------------------------------------------------------

Hey, Rizal.
Ada apa? Kenapa kau datang kembali?
Apa kau ingin menertawakanku karena sekarang aku telah jatuh dan terpuruk?
Oh, maafkan aku.
Ternyata aku salah.
Kau sekedar meneleponku untuk menanyakan kabarku, lalu kujawab : aku tidak sedang baik, tapi cukup baik untuk melanjutkan hidup.
Hah, kau tahu sendiri kan, aku tidak pernah bisa menyimpan rahasia padamu.
Akhirnya kau tahu semua yang terjadi padaku.
Lantas kau bilang : "aku sangat menyesal tidak bisa menyelamatkan hatimu"
Hey, apa maksudmu? Aku sepertinya tidak mengerti perkataanmu.
"Aku tahu sejak awal, bahwa pria yang berusaha mendekatimu hanya ingin mempermainkanmu, dia bukanlah orang yang baik, aku sangat tahu itu. Tapi apalah dayaku, aku tak bisa menahanmu.

Kemudian aku menjawab:
Tak perlu kau risaukan,
apa yang terjadi padaku saat ini adalah apa yang memang semestinya terjadi padaku.

Baiklah.

Sambungan telepon terputus.

Dan aku tertidur,
Sebab beban di kepalaku terlampau berat.

Senin, 08 Februari 2016

Unhappines Situation

Dear sky and night
Today is complicated, i feel happy, sad and bad
You know, i don't know why before I go to somewhere with my coworkers, i feels a syndrom like so sad. I wanna cry and cry. Then I imagine that there an accident will happen to me. I'm scary, my mind was disturbed and my tears almost drops.